DISIPLIN KEILMUAN ISLAM: EPISTEMOLOGI BAYANI

Posted: Juli 8, 2010 in syari'ah

PENDAHULUAN

Al-Dzahabi menuturkan: Pada tahun 143 H, para ulama pada masa ini mulai mengumpulkan dan membukukan hadis, fiqh, dan tafsir. Di Mekkah muncul Ibn Juraih yang menulis satu buku, di Madinah ada Malik yang menulis al-Muwattha’, al-Auza’I di Syam, Ibn Abi ‘Urubah, Hammad Ibn Salamah dan lainnya di Basrah, Ma’mar di Yaman, dan Sufyan al-Tsauri di Kufah. Pada masa itu pula, Ibn Ishaq menulis al-Maghazi, dan Abu Hanifah tentang fiqh dan ra’y. Tidak lama berselang, muncul Husyaim, al-Laits, dan Ibn Luhay’ah, lalu Ibn al-Mubarak, Abu Yusuf dan Ibn Wahb. Gerakan tadwin dalam sejumlah disiplin keilmuan kian meluas dan bertambah banyak. Buku-buku bahasa Arab, leksikografi, dan sejarah sudah diterbitkan saat itu. … padahal sebelum masa tadwin ini orang-orang hanya mengandalkan hafalan dan meriwayatkan ilmu pengetahuan dari naskah-naskah yang tidak tersusun rapi.

Kutipan di atas cukup signifikan dalam proyek Kritik Nalar Arab al-Jabiri. Sebab, apa yang dikatakan oleh teks ini dan apa yang tidak di katakana (not said), dalam pandangannya merefleksikan ketegangan antara beberapa jenis nalar yang muncul saat itu. Dan ini sangat penting bagi al-Jabiri yang ingin menjadikan teks tersebut sebagai titik tolak bagi kemunculan apa yang disebutnya sebagai nalar bayani, irfani, dan burhani[1].

Ada tiga metodologi epistemologi untuk membongkar nalar Arab tentang turâts, menurut al-Jabiri, yaitu, Pertama epistemologi bayani, epistemologi Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang menekankan teks, nas secara langsung atau tidak langsung, dan dijustifikasi oleh akal kebahasaan yang digali lewat inferensi. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran, secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu penafsiran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks. Dalam bayani rasio dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan kecuali disandarkan pada teks. Dalam sasaran keagamaan metode bayani adalah aspek eksoterik (syariat)[2].

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Epistemologi Bayani

Menurut al-Jabiri apa yang disebut dengan nizham ma’rifi bayani atau ‘aql bayani mencakup disiplin-disiplin ilmu yang menjadikan ilmu bahasa Arab sebagai tema sentralnya, seperti balaghah (ilmu keindahan bahasa), nahw (gramatika bahasa arab), fiqh dan ushul fiqh, dan kalam[3].

Istilah al-Bayan bukanlah istilah yang ilmu sastra Arab Balagah yang terbagi ilmu al-Ma’ani, al-Bayan dan al-Badi’. Seperti yang diungkapkan oleh al-Sakkaki (w.626) istilah al-Bayan sebelum populer digunakan oleh ulama balaghah mengacu kepada setiap komunikasi “pengarang” kepada “pembaca”  (tabligh al-mutakalim muradahu ila al-sami’). Bahkan lebih luas, istilah ini digunakan pada setiap proses pemahaman.

Pengertian al-bayan dapat juga kita telurusi melalui kamus Arab yang dikarang oleh tokoh abad ke-tujuh hijriah, Ibn Mandzur (630-711 H.) Ada lima arti dari kata al-bayan: 1. al-washl (koneksi)2. al-fashl (pemisah)3. adz-dzuhur wa al-wudhuh (nampak dan jelas)4. al-fashahah wa al-qudrah ‘ala al-tabligh wa al-iqna’ (fasih dan kemampuan penyampaikan)5.  seperti ungkapan bahasa Arab: al-insan hayawan al-natiq (manusia adalah mahluq yang berakal. Ungkapan ini untuk membedakan antara manusia dan mahluk lainnya.

Istilah bayan terbagi menjadi dua pegertian: Pertama; kaidah penafsiran wacana (tafsir al-khitab) dan produksi wacana (intaj al-khitab). Pengertian tafsir di sini merujuk kepada zaman nabi dimana para sahabat menafsirkan kalimat  dan susunan kalimat yang ada di al-qur’an atau paling tidak  merujuk pada masa Khalifah ar-Rasyidin dimana masyarakat bertanya kepada  sahabat tentang  makna yang “tersembunyi’ dalam al-qur’an. Sedangkan produksi wacana  dengan munculnya friksi politik, kelompok aliran teologis setelah peristiwa ‘tahkim’ dalam dunia Islam.Contohnya di kalangan sahabat, Ibn Abbas (68 H) dikenal dan menjadi rujukan tafsir al-Qur’an, sehingga para ulama terdahulu menjulukinya dengan tarjumanul al-qur’an (terjemahan al-Qur’an).  Dia menjadi ikon rujukan riwayat yang kuat pada bidang tafsir[4].

Selanjutnya bagaimana mengetahui ‘epistemologi’ bayani al-Qur’an. Pertanyaan ini dijawab oleh Syafi’I dengan argumentasi:Artinya: Bayan adalah nama yang mencakup makna ‘asal’ dan cabang. Paling tidak dia menjelaskan kepada yang diajak komunikasi dengan bahasanya ketika al-Qur’an itu diturunkan. Pemahaman terhadap al-Quran tidak dapat dicapai bagi orang yang tidak mengetahui lisan Bahasa Arab. Dapat disimpulkan bayan dalam pengertian Asy-Syafi’I pada level penjelasan (al-wudhuh wa al-adz-dzuhur). Imam Syafi’I meletakkan asas kaidah penafsiran khitab bayani al-Qur’an dengan lima macam[5]:

1)      Al-Qur’an yang penjelasan (bayan) yang tidak membutuhkan penjelasan yaitu  nash yang sangat jelas karena sudah dijelaskan oleh Allah .

2)      Al-Qur’an yang penjelasan yang sebagian maknanya masih global (ijmal) kemudian al-sunnah (hadits) melengkapi penjelasan itu.

3)      Al-Qur’an yang penjelasannya seluruhya masih global (mujmal), kemudian al-sunnah  (hadits) yang memerinci maknanya.

4)      Bayan al-Sunnah (Hadits) yang oleh Syafi’I kedudukan al-Sunnah nabi sama dengan al-Qur’an.

5)      Bayan Ijtihad melalui metode qiyas atau analogi yang tak terlepas dari kitab (al-Qur’an) dan Sunnah nabi.

Dengan demikian sumber pengetahuan bayani adalah teks. Dalam istilah ushul fiqh, yang dimaksud nas sebagai sumber pengetahuan bayani adalah Alquran dan hadis. Dikalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran Islam yang utama adalah Alquran, al-Sunnah dan Ijma’. Ketentuan ini sesuai dengan agama Islam itu sendiri sebagai wahyu yang berasal dari Allah Swt, yang penjabarannya dilakukan oleh Nabi Muhamamd saw. Di dalam Alquran surat an-Nisa ayat 59.

  1. Cakupan Epistemologi Bayani
    1. Balaghah (ilmu keindahan bahasa)[6]

Untuk lebih mengetahui tentang ilmu Balaghah, maka hendaklah diketahui pengertian dari Balaghah. Jika kita perhatikan dari keterangan-keterangan fakar ilmu balaghah dari beberapa regenerasi dapat disimpulkan bahwa :

llmu Balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk mengungkapkan bahasa yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hat (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya.

Ungkapan yang mempunyai nilai sastra tinggi telah lama dimiliki oleh orang orang Arab, babkan sebelum tersebarnya agama Islam, tidak mengherankan dari keindahan bahasa membuat mereka terkesima mendengarkan ayat-ayat suci AI-Quran dan bahasa Hadist.

Ilmu balaghah sebagaimana diketahui terdiri dari 3 bagian yaitu: ilmu Bayan, Ilmu Ma’ani dan ilmu Badi’.

Ilmu Bayan adalah ilmu yang menjelaskan seluk beluk bahasa Arab dimulai dari mengetahui uslub (ragam bahasa) puisi dan prosa.

Pembagian ilmu Bayan meliputi :

–        Tasybih, rukun tasbih. Pembahagian Tasybih dan kegunaan ungkapan Tasybih .

–        Balaghah dan pengaruhnya bagi orang Arab dan bahasa Arab bagi para pembicara dan lawan bicara

–        Pembahasan tentang Majaz serta pembahagiannya

–        Isti’ara (kata pinjaman) beserta pembahagiannya.

–        Kinayah dan pembahagiannya.

Ilmu ma’ ani adalah ilmu untuk mengetahui kejelasan ucapan Arab sesuai dengan situasi kondosinya (amin Hakri 1979:53).

Ilmu Ma’ani merupakan pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah untuk pemakaian kata sesuai muqtadal hal. Jelasnya Ilmu Ma’ani itu adalah suatu peraturan tentang pemberian makna yang tepat sesuai dengan redaksi kalimat.

Dalam kelompok ilmu Ma’ ani ini akan dibahas mengenai :

–        Kalam khabari dan insya

–        Zikru dan Hazfu

–        Taqdim dan ta’hir

–        Qashar

–        Washal dan fashal

–        Ijaz dan Musawah

  1. 2. Nahw (gramatika bahasa arab)

Ilmu Nahwu[7] adalah ilmu pengetahuan yang membahas prihal kata-kata Arab, baik ketika sendiri (satu kata) maupun ketika terangkai dalam kalimat. Dengan kaidah-kaidah ini orang dapat mengatahui Arab baris akhir kata (kasus), kata-kata yang tetap barisnya (mabni), kata yang dapat berubah (mu’rab).

Ilmu ini telah dirintis penyusunannya, mula-mula oleh Abul Aswad Ad-Duali, atas nasehat Ali bin Abi Thalib. Kemudian ilmu ini berkembang di Bashrah dan menjadi luas pembahasannya, sehingga banyak ulama dan ahli-ahli bahasa yang mengarang kitab-kitab nahwu itu, adalah Abu Ishaq Al-Hadhrami yang wafat tahun 117 H., Isa bin Umar yang wafat tahun 149 H. pengarang kitab Al Jaami’ dan Al Ikmal: Al Khalil bin Ahmad, Sibawaihi, Abu Amir bin Al-‘Ala’ yang wafat tahun 154 H. dan Al-Ahfasy, murid Sibawaihi, ilmu Nahwu ini berkembang pula di Kufah yang dipelopori oleh Mu’adz Al-Harra’, Abu ja’far Ar-Ruasi dan kedua murid-muridnya Al-Kisai dan Al-Farra’, sehingga terjadilah dua aliran dalam ilmu Nahwu ini, yaitu aliran Bashrah dan aliran Kufah. Akhirnya kedua aliran ini bertemu di Baghdad, pusar pemerintahan Abbasiyah- masing-masing dibahas oleh Ibnu Qutaibah dan Hanifah Al-Dinauri[8].

Tujuanya adalah untuk menjaga kesalahan-kesalahan dalam mempergunakan bahasa, untuk menghindarkan kesalahan makna dalam rangka memahami AI-Quran dan Hadist, dan tulisan-tulisan ilmiah atau karangan.

Alam tata bahasa/ sintaksis Arab, dikenal istilah Fi’iil dan Harf, jumlah Islamiyah dan Fi’liyah serta Syibhu jumlah. Dalam ilmu Nahwu banyak lagi istilah dan persoalan yang dihadapi dapat diteliti dari buku-buku bahwa yang banyak tersebar.

  1. Fiqh dan Ushul fiqh[9]

Usul Fiqh adalah tarkib idhafi (kalimat majemuk) yang telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu tertentu. Dintinjau dari segi etymologi fiqh bermakna pemahaman yang mendalam tentang tujuan suatu ucapan dan perbuatan (Lusi Ma’luf: Munjid).

Sedangkan pengertian fiqh menurut terminologi para fuqaha’ (ahli fiqh) adalah tidak jauh dari pengertian fiqh menurut etymologi. Hanya saja pengertian fiqh menurut termilnologi lebih khusus dari etymologi. Figh menurut terminologi adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan manusia, yang diambil dari dalil-dalil yang terinci (detail).(Abu Zahrah: Usul Fiqh).

Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa pembahasan ilmu fiqh meliputi dua hal:

–        Pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ meneganai perbuatan manusia yang praktis. Oleh karena itu ia tidak membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan I’tiqad (keyakinan).

–        Pengetahuan tentang dalil-dalil yang terinci pada setiap permasalahan.

Hubungan ilmu Ushul Fiqh dengan Fiqh adalah seperti hubungan ilmu mathiq (logika)  dengan filsafat, bahwa mantiq merupakan kaedah berfikir yang memelihara akal agar tidak ada kerancuan dalam berfikir. Juga seperti hubungan antara ilmu nahwu dalam bahasa arab, dimana ilmu nahwu merupakan gramatikal yang menghindarkan kesalahan seseorang di dalam menulis dan mengucapkan bahasa arab.  Demikian juga Ushul Fiqh adalah merupakan kaidah yang memelihara fuqaha’ agar tidak terjadi kesalahan di dalam mengistimbatkan (menggali) hukum.

Hubungan ilmu Ushul Fiqh dengan Fiqh adalah seperti hubungan ilmu mathiq (logika)  dengan filsafat, bahwa mantiq merupakan kaedah berfikir yang memelihara akal agar tidak ada kerancuan dalam berfikir. Juga seperti hubungan antara ilmu nahwu dalam bahasa arab, dimana ilmu nahwu merupakan gramatikal yang menghindarkan kesalahan seseorang di dalam menulis dan mengucapkan bahasa arab.  Demikian juga Ushul Fiqh adalah merupakan kaidah yang memelihara fuqaha’ agar tidak terjadi kesalahan di dalam mengistimbatkan (menggali) hukum.

Objek Ushul Fiqh berbeda dengan Fiqh. Objek fiqh adalah hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia beserta dalil-dalilnya yang terinci. Manakala objek ushul fiqh mengenai metdologi penetapan hukum-hukum tersebut. Kedua disiplin ilmu tersebut sama-sama membahas dalil-dalil syara’ akan tetapi tinjauannya berbeda.  Fiqh membahas dalil-dalil tersebut untuk menetapkan hukum-hukum cabang yang berhubungan dengan perbuatan manusia. Sedangkan ushul fiqh meninjau dari segi penetapan hukum, klasifikasi argumentasi serta siatuasi dan kondisi yang melatar belakangi dalil-dalil tersebut.

Jadi objek pembahasan ushul fiqh bermuara pada hukum syara’ ditinjau dari segi hakikatnya, kriteria, dan macam-macamnya. Hakim (Allah) dari segi dalil-dali yang menetapkan hukum, mahkum ‘alaih (orang yang dibebani hukum) dan cara untuk menggali hukum yakni dengan berijtihad.

KESIMPULAN

Ada tiga metodologi epistemologi untuk membongkar nalar Arab tentang turâts, menurut al-Jabiri, yaitu, Pertama epistemologi bayani, epistemologi Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang menekankan teks, nas secara langsung atau tidak langsung, dan dijustifikasi oleh akal kebahasaan yang digali lewat inferensi. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran, secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu penafsiran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks. Dalam bayani rasio dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan kecuali disandarkan pada teks. Dalam sasaran keagamaan metode bayani adalah aspek eksoterik (syariat)[10].

Epistemologi Bayani mencakup disiplin-disiplin ilmu yang menjadikan ilmu bahasa Arab sebagai tema sentralnya, seperti balaghah (ilmu keindahan bahasa), nahw (gramatika bahasa arab), fiqh dan ushul fiqh, dan kalam. Sehingga pada rumpun Bayani, kita perlu mengetahui secara jelas apa itu balaghah, nahwu, fiqh dan ushul fiqh serta kalam sehingga dalam membongkar nalar Arab atau dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.litagama.org/Jurnal/Edisi6/aljabiri.htm
  2. http://permatacanberra.wordpress.com/2007/03/11/pengantar-usul-fiqh/
  3. http://www.belajarislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=91%3Asekilas&Itemid=11
  4. http://www.bangjay.com/index.php?option=com_content&task=view&id=19&Itemid=45

[1]

[2] http://www.litagama.org/Jurnal/Edisi6/aljabiri.htm

[3]

[4] http://www.bangjay.com/index.php?option=com_content&task=view&id=19&Itemid=45

[5] http://www.bangjay.com/index.php?option=com_content&task=view&id=19&Itemid=45

[6]

[7]

[8] http://www.belajarislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=91%3Asekilas&Itemid=11

[9] http://permatacanberra.wordpress.com/2007/03/11/pengantar-usul-fiqh/

[10] http://www.litagama.org/Jurnal/Edisi6/aljabiri.htm

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s