Tugas Akhir UGM

Posted: Juni 3, 2010 in syari'ah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penerjemahan

Translation atau penerjemahan selama ini didefinisikan melalui berbagai cara dengan latar belakang teori dan pendekatan yang berbeda, meskipun tidak mewakili keseluruhan definisi yang ada dalam dunia penerjemahan dewasa ini. (Rochayah Machali, 2000: 4-5).
Kata terjemah berasal dari bahasa Arab الترجمة yang berarti menurut bahasa adalah memindahkan atau mengganti. Kata terjemah juga sering disebut translation dalam bahasa Inggris yang berarti to change from one place to another, yaitu memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lainnya, atau mengganti suatu bentuk ke dalam bentuk lain.
Adapun menurut istilah, terjemah bisa didefinisikan sebagai berikut. Translation or interpletation is the art of transferring speech or writing from the source languange into the target languange ‘terjemah adalah seni mengganti ucapan atau tulisan dari bahasa sumber ke dalam bahasa yang dituju’ (Mustolah Maufur, 1993: 2).

Penerjemahan menurut Basalamah (dalam Sangidu, 2004: 98) adalah memindahkan ide atau pokok pikiran dari satu bahasa ke bahasa lain. Dengan demikian, dalam penerjemahan ini sudah barang tentu telah ada dua bahasa yang dalam istilah linguistik disebut bahasa sumber dan bahasa sasaran. Sementara Nida dan Taber (dalam Sangidu, 2004: 98-99) lebih menekankan penerjemahan pada aspek komunikatifnya. Mereka mengemukakan bahwa penerjemahan merupakan proses memproduksi kembali amanat yang ada dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Oleh karena itu, menerjemahkan berarti berkomunikasi. Oleh karena penerjemahan dipandang sebagai sarana komunikasi, maka sudah barang tentu proses komunikasi itu melibatkan penerjemah (pengirim), pembaca (penerima), dan amanat (pesan) yang disampaikan.

Berkenaan dengan beberapa pendapat di atas, khazanah keilmuan di Indonesia memang telah banyak menghasilkan hasil-hasil terjemahan dari karya sastra, terutama yang berwujud prosa. Penulis tertarik dengan karya sastra berbentuk prosa karena hasil penerjemahan akan bermanfaat bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis tertarik untuk menerjemahkan salah satu karya sastra berbentuk prosa yang berjudul ‘Afaf karya Um H}assan Al H}ulw yang diterbitkan oleh Dar Ibn H}azm Mesir pada tahun 1993. Penulis menerjemahkan karya tersebut dimulai dari halaman 71 sampai halaman 99 sebagai syarat dalam menempuh program D III Bahasa Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

1.2 Alasan Pemilihan Judul

Masuknya pola hidup Barat dan juga ideologinya ke wilayah Timur telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan sosial masyarakat Arab. Pengusungan tradisi Barat ke Timur tanpa penyaringan yang kuat dapat berujung pada hancurnya harga diri, kehormatan, dan norma. Oleh karena itu, dibutuhkan penyeimbang yang dapat menopangnya sehingga harkat dan martabat manusia dapat terangkat. Di antara media yang dapat dijadikan sebagai sistem penyeimbang adalah karya sastra, karena karya sastra dapat dinilai sebagai sarana kontrol sosial.

Alasan penulis memilih untuk menerjemahkan karya sastra berbentuk prosa dengan judul ‘Afaf Qis}s}atun Hadifatun, yaitu sebuah cerita tendensius karya Um H}assan Al-H}ulw karena selain ceritanya yang menarik, karya tersebut mengandung banyak pesan moral di dalamnya. Pada bagian yang penulis terjemahkan, halaman 71-99, terdapat suatu pergolakan dalam pencarian jati diri seorang doktor lulusan Amerika, yaitu Dr. Siraj, salah satu tokoh dalam karya sastra berbentuk prosa ini. Dalam pergolakan ini banyak sekali manfaat yang mungkin dapat kita ambil sehingga dengan adanya karya sastra berbentuk prosa ini dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya.

1.3 Metode Penerjemahan

Ada dua metode terjemah yang digunakan dalam proses penerjemahan, yaitu metode terjemah formal atau harfiah dengan metode terjemah dinamis. Menurut Basalamah (dalam Sangidu, 2004: 99), metode terjemah formal atau harfiah adalah penerjemahan kata demi kata. Metode penerjemahan jenis ini kadang-kadang dipandang tidak dapat memberikan informasi yang tepat.

Masih menurut Basalamah (dalam Sangidu, 2004: 100), metode terjemah dinamis adalah metode terjemah yang berusaha menyampaikan isi amanat dalam bahasa sumber dengan ungkapan-ungkapan yang lazim digunakan dalam bahasa terjemahan atau bahasa sasaran. Metode ini menurut McArthur (dalam Sangidu, 2004: 100) dapat dilakukan dengan tiga langkah, yaitu (1) pemahaman ide dalam bahasa sumber, (2) mencari persamaan ide yang sesuai dengan bahasa sasaran, dan (3) menghasilkan versi yang sesuai dengan norma atau aturan dalam bahasa sasaran.

1.4 Tujuan dan Kegunaan Penerjemahan

Tujuan dan kegunaan penerjemahan karya ‘Afaf Qis}s}atun Hadifatun halaman 71-99 adalah:
1.untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu bahasa Arab yang diperoleh dari kegiatan perkuliahan,
2.untuk mengetahui maksud, tujuan, dan pesan ide atau gagasan yang disampaikan oleh pengarang,
3.untuk menambah khazanah keilmuan dunia Arab dari segi budaya, dan
4.untuk memberikan pelajaran bagi para pembaca atau penikmat karya sastra karena di dalamnya memuat berbagai hal tentang etika dan moral.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan tugas akhir ini terdiri dari tiga bab dengan pokok-pokok pembahasan sebagai berikut:

BAB I : pada bab ini berisi pendahuluan, yang meliputi latar belakang, alasan pemilihan judul, metode penerjemahan, tujuan dan kegunaan penerjemahan, dan sistematika penulisan,
BAB II : pada bab ini berisi hasil terjemahan novel ‘Afaf Qissatun Hadifatun halaman 71-99, dan
BAB III : pada bab ini berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II

HASIL TERJEMAHAN BAGIAN KETIGA ‘AFAF
Dr. Siraj memegang tangan-tangan si kecil saat dia keluar bersama mereka. Ia merasa sangat senang, ia menginginkan seorang manusia yang pandai dan memahami perasaan serta pengetahuannya. Ia menyangka bahwa ada seorang di dunia ini yang akan memahaminya lebih banyak dari saudara perempuan yang ia sayangi, yaitu Ummu Surur yang lebih bersaudara karena memiliki kesamaan dengan ibu mereka yang telah meninggal.
Dr. Siraj melihat sawah-sawah yang terhampar hijau, ia mendengar bunyi air bergemericik yang melintasi anak sungai. Ia menggenggam tangan si kecil dan mengulang nyanyian anak-anak yang bagus.

Di sini ada pasir yang basah

Ada laut dan kebebasan

Ada jiwa yang harum

Bergembiralah maka kami akan menghibur

Genggaman tangan Surur semakin kuat, dia tertawa dengan keras. Dia menoleh pada si kecil, Sarah, dan tangannya melingkar di antara Sarah dan Surur. Iapun menarik kedua tangan yang kecil itu dengan gesit seperti sedang menari. Ia berkata sambil memandang Sarah.
Di sini ada batu karang yang tinggi
Di sini ada kebahagiaan yang tetap
Di sini ada keridhaan dan kenikmatan
Bergembiralah dengan kami maka kami akan menghibur

Si kecil pun tertawa dan pamannya pun tertawa dari lubuk hatinya kemudian mereka berjalan bersama ke pinggiran anak sungai. Kemudian, Dr. Siraj meletakkan kedua kakinya ke air dan si kecil pun mulai bercakap-cakap, ia pun bertanya pada Surur, “Dari mana semua air ini datang, Surur?” “Air ini datang dari mata air tawar besar yang memancar di desa kami.” “Dapatkah kamu mengikuti jejaknya, ya Surur?” Surur pun tertawa lepas dan berkata, “Paman… Engkau tidak tahu bahwa mata air ini berasal dari atas gunung yang jauh itu.”
Ia menunjuk ke sebuah gunung yang jauh yang ditutupi oleh tanaman yang hijau dan lebat, Surur pun berkata, “Aku kira paman telah mengetahui hal ini dari dulu.”
“Kebenaran yang mana, ya Surur?” “Mata air yang mengairi tanah rendah yang haus harus berada di tempat tinggi. Jika tidak, bagaimana bisa air bisa sampai?
Dr. Siraj menepuk pundak Surur dan memandang ke cakrawala yang jauh. Ia memfokuskan pandangannya pada gunung yang ada di depannya, di mana ada mata air tawar yang berkilauan. Ia berkata dengan intonasi yang dalam, “Engkau berkata benar saudara kecil, engkau benar, ya Surur.” Surur menjawabnya, “Aku bukan anak kecil lagi, Paman. Aku anak laki-laki yang sekarang berumur lima setengah tahun dan bulan depan aku akan masuk sekolah.” “Aku juga mau pergi ke sekolah denganmu.” Timpal Sarah dengan emosi.
Surur pun berkata kepada Sarah, “Tidak… tidak… kamu masih kecil, kamu tidak dapat pergi, umurmu baru 4 tahun.”

Perdebatan yang keras antara mereka pun terjadi. Dr. Siraj pun melerai dan memegang kedua tangan mereka sambil berkata, “Kalian berdua akan besar dan masuk sekolah Insya Allah, setelah itu kalian akan belajar di universitas. Dulu paman juga kecil sepertimu Surur. Paman bermain di sini dan akan melompat di sana, kadang-kadang aku jatuh, kadang-kadang aku berdiri lagi, hari-hari yang sangat menyenangkan.
Ia bangkit dan memegang kedua tangan mereka dengan mesra sambil berkata, “Ayo kita pergi.”

Dr. Siraj berjalan di antara padang rumput yang hijau seakan ia menyelam di dalamnya hingga ia berada setengahnya. Ia memandang anak-anak kecil itu, si kecil melihat mata Siraj, barangkali ia memandang rambut-rambut Sarah yang berterbangan.
Ia sangat senang sekali dengan kesenangan yang tidak dapat digambarkan dengan kedua temannya yang kecil. Ia melompat kegirangan sambil menjaga keseimbangan didepan kedua saudara kecilnya. Setelah beberapa lama ia berada di tengah-tengah padang rumput, ia berhenti sejenak. Dia menoleh ke belakang dan dia berkata, “Kita telah melewati jarak yang jauh, ya Surur. Apa pendapatmu jika kita merubah arah dan kembali ke rumah dari jalan ini.” Ia menunjuk ke sisi kanannya. “Jangan Paman… Aku takut dengan jalan ini.”
“Apa yang membuat kamu takut di sana?” “Di jalan ini ada rawa besar yang dibangun oleh para penduduk dan reruntuhan bangunannya ada di jalan ini, tetapi tempatnya hanya berisi tanah pertanian dan lumpur.” “Aku tidak suka dengan keadaannya paman. Kita jalan dari sisi kiri saja, di sana ada daratan luas di antara gunung-gunung yang memungkinkan kita berjalan melewatinya.”

Dr. Siraj pun setuju dengan saran si kecil itu, lalu ia memegang tangan keduanya dan mulai berjalan melewati persawahan yang hijau dan anak sungai yang berkilauan.
Kedua anak kecil itu mulai merasa lelah, mereka meminta pamannya untuk duduk di salah satu sawah, kemudian ia turun dengan senang. Ia mencoba untuk menangkap kupu-kupu yang berterbangan. Mereka tertawa dan berpura-pura terbang seperti kupu-kupu yang indah.
Karena kepergian kedua si kecil itu darinya dan kesibukan keduanya dengan kupu-kupu yang cantik, maka Dr. Siraj mulai bercakap-cakap dan bertanya jawab dengan dirinya sendiri untuk membayangkan alam yang indah di sekitarnya.

Dr. Siraj memandang sekumpulan pohon dari jauh dan berkata, “Setiap pohon berbuah sesuai dengan akar dan pangkalnya … dan engkau Siraj …Asalmu di sini dan akarmu juga di sini … Engkau hidup dalam kehidupan barat yang aneh. Engkau lihat, jika kau potong dari pohon apel ini sebatang ranting lalu kau bawa ke Amerika, apakah mungkin ia berubah menjadi delima? Tidak, tetapi ia mungkin akan berbuah apel yang kecil dan mentah atau mungkin ia akan berbuah apel yang lebih besar dan lebih lezat dari apel ini. Segala sesuatu akan dipengaruhi oleh lingkungannya, itu pasti, tetapi engkau Siraj, orang yang pintar, maka jadilah kamu orang yang punya pengaruh yang positif dan aktif.”
Kedua si kecil itu memotong angan-angannya dan menjerat pikirannya ketika mereka datang dengan cepat, terengah-engah karena lari mengejar kupu-kupu. Keduanya merebahkan diri di samping Dr. Siraj. Surur meletakkan tangannya di paha pamannya dan memandangnya sesaat lalu berkata, “Ceritakanlah kepada kami sesuatu, Paman!!” “Cerita tentang apa?”
“Tentang apa saja yang Paman ketahui, kisah yang manis.” “Aku tidak tahu tentang cerita-cerita, aku telah lupa semuanya.” Sarah berkata, “Kalau begitu senandungkanlah untuk kami sebuah lagu.” “Apakah Paman harus bersenandung untuk kalian sementara paman tidak tahu tentang apa yang paman senandungkan.” “Kalau begitu apa yang paman tahu?”
“Paman hanya bisa…” lalu ia terdiam. Ia tidak ingin membuka kebenaran tentang dirinya bila mungkin bisa bernyanyi!! Maka ia pun berkata pada mereka, “Paman tidak tahu sesuatu apapun, makanya kalian saja yang bercerita untukku!” “Kami tahu banyak, apa yang paman inginkan??” “Sesuatu yang terakhir kali kau pelajari, Surur. Apa itu??”
“Sesuatu yang terakhir kali kupelajari itu ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim, Paman.”
“Bagus…bagus ya Surur, tunjukanlah padaku apa yang sudah kamu pelajari!”
Surur pun meluruskan duduknya dan memusatkan pandangannya pada gunung yang tinggi di depannya, kemudian ia berkata dengan merdu dan memikat hati.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah di perbuatnya untuk hari esok. Bertaqwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan. Janganlah kamu itu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, karena Allah akan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Merekalah orang-orang yang fasik. Para penghuni neraka tidak sama dengan para penghuni surga. Para penghuni surga itulah orang-porang yang memperoleh kemenangan. Andai kami turunkan Al Qur’an ini di atas sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berfikir. (Q.S Al Hasyr: 18-21).

Ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia itu mulai mengalir dengan suara yang merdu dan khusuk, hingga mulai menggetarkan hati Siraj dan mulailah ia berfikir dan bercakap-cakap dengan dirinya sendiri sambil berkata, “Perumpamaan ini untuk orang-orang yang berfikir, wahai doktor pemikir dan filosof.” Ia menengadahkan kepalanya dan melihat ke arah gunung, kemudian ia diam dan memandang dirinya sendri. Ia merasa kecil dan kurus di depan gunung itu. Perasaannya mulai mengalir antara perasaan anak-anak dan kecil, perasaan orang besar dan kecil, lalu ia takut kalau dirinya menjadi bagian dari orang-orang yang melupakan Allah dan Allah akan melupakan mereka. Ia tidak tahu apa yang membuat kulitnya mengkerut dan hati serta anggota badannya berguncang. Kata-katanya mati di kedua bibirnya.
Ia kini hanya diam seperti orang yang linglung. Si kecil Sarah pun menggoyangkannya dan berkata, “Tidakkah Paman mendengarkanku?” Dia menjawab, “Paman mendengarkanmu.”
“Aku sudah meminta izin kepada paman untuk membacakan berkali-kali, tetapi paman tidak setuju, kenapa?” Siraj menoleh kepadanya sambil membuka kedua matanya dan tersenyum dengan senyum yang dipaksakan. “Ayo silahkan baca!” “Aku hanya hafal surat-surat pendek saja.”

Wajah Siraj bersinar dan menepuk pundak Sarah dan berkata, “Ayo silahkan, silahkan kamu bacakan!” Hampir saja ia berkata kepadanya, “Terus terang aku juga sepertimu, aku hanya hafal beberapa surat pendek.” “Demi matahari dan sinarnya di pagi hari. Dan demi bulan apabila mengiringinya. Dan demi siang apabila menampakkannya. Dan demi malam apabila menutupinya (gelap gulita). Dan demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan). Dan demi bumi serta penghanparannya. Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan) nya. Maka Dia mengilhamkannya (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Kedua mata Siraj pun mulai bercucuran air mata. Ia mengulanginya,

“Demi jiwa serta yang penyempurnaan ciptaan-Nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaan…sungguh beruntung orang yang?….Sungguh beruntung orang yang mensucikannya dan sungguh rugi orang yang?..dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Kemudian ia memandang kepada kedua anak kecil itu dan berterima kasih kepada keduanya dengan hangat dan berkata kepada mereka, “Ayo kita pulang ke rumah.”
Dr. Siraj dan kedua anak kecil itu melewati jalan yang panjang. Kadang-kadang ia mendengarkan percakapan, penjelasan dan tawa mereka dan terkadang perasaannya gelisah memikirkan bermacam-macam masalah. Mereka telah sampai di rumah. Abu Surur bergegas menuju pintu dan menyambut mereka dengan ramah, tawa dan gurauan, lalu ia bertanya, “Apakah anak-anak itu membuatmu cemas saudaraku?” “Tidak, aku justru senang bersama mereka. Mereka membuatku senang.” Jawabnya. Ia menepuk kedua bahu mereka dan berkata kepada orang tua mereka, “Semoga Allah membahagiakanmu dengan adanya mereka. Semoga Allah memberkati dan memberikan kenikmatan kepada kalian berdua dengan adanya mereka.”

Ummu Surur masuk ke ruang tamu, menyambut adiknya dan mengundang semuanya ke ruang makan.Dr. Siraj menyantap makan siangnya dalam keadaan gelisah. Dia tidak tahu apa sebabnya. Ummu Surur memperhatikan hal itu dan berkata, “Tampaknya kamu lelah adikku. Aku akan menyiapkan kamar untukmu, karena seperti yang kita ketahui, waktu diskusi kita sudah dekat.” “Setelah aku istirahat aku akan berbicara dengan kalian berdua tentang apa yang ada didalam hatiku.”

Ia masuk ke kamar dan menutup pintu yang ada di belakangnya. Ia mulai kembali mengatur pikirannya. Ia terlentang di kasurnya sedangkan perasaan-perasaannya saling berbenturan antara akal dan hatinya. Dia tidak tahu apa yang ia rasakan dengan sebenarnya. Apakah itu hanya perasaan-perasaannya saja? Ataukah itu kembali ke fitrah akar dan asal yang ia sangka bahwa masa-masa itu belum dan tidak akan kembali ke kehidupannya!! Apakah itu merupakan perasaan menjauhkan antara kehidupannya yang membingungkan dengan kehidupan kakaknya Ummu Surur yang tenang? Kadang ia berguling sekali di kasurnya, tetapi ia berkali-kali membalikkan persoalannya, dan terkadang ia mulai tertidur sebentar. Kemudian ia keluar dan duduk di ruang tamu lalu ia mulai memperhatikan pemandangan alam yang menarik hatinya. Sebentar kemudian muncul rasa cemas dan keragu-raguan.

Kakak perempuannya, Ummu Surur, datang dan duduk di sampingnya. Ia memandangnya dengan pandangan yang jauh dan bertanya, “Ada apa denganmu, adikku? Kamu kelihatan sangat sedih, aku tidak tahu pasti bagaimana aku melihatmu, tetapi aku melihatmu tidak seperti biasanya dan kamu tidak gembira. Apakah yang membuatmu sedih?”
Siraj menarik nafas dalam-dalam, jari-jarinya mengetuk meja kecil yang ada di sampingnya, kemudian ia menengadahkan kepalanya. Ia memandang sesuatu yang sangat jauh dan berkata, “Ya…di sana sesuatu yang membangunkanku.” Kemudian ia memandang sekelilingnya dan bertanya, “Di mana kakakku, Abu Surur?” “Dia akan datang sebentar lagi, karena itu aku ingin kita–aku dan kamu- berbicara terlebih dahulu. Adapun aku akan mengikuti pendapat Abu Surur juga.” Siraj pun mulai bercerita, dia berkata, “Sekarang ini aku sangat bingung dan bimbang dan aku ingin bercerita kepadamu karena sifat-sifatmu, sebagai kakak yang pertama, sebagai teman yang kedua dan perempuan yang mengerti arti hidup dan sudah banyak pengalaman. Aku yakin kakak bisa memahamiku dengan baik.”
Ummu Surur memperhatikan dengan saksama dan ia berkata, “Ceritakanlah, insya Allah itu akan jadi lebih baik.”

“Aku mengira diriku mampu untuk menangguhkan pikiranku untuk menikah selama aku mempersiapkan apartemen, ranjang dan apa yang berkaitan dengan status sosialku secara umum, tetapi status sosialku inilah yang banyak menyeretku ke situasi yang tidak menyenangkan dan memuaskan.” Ia terdiam sejenak kemudian berkata, “Mungkin aku terseret disebabkan aku senang mengisi waktu luangku dengan kekosongan dan kesia-siaan. Akan tetapi, baru saja aku tidak dapat menyembunyikannya darimu karena aku kembali setelah semua kesia-siaan yang menyedihkan. Aku merasa diriku adalah manusia yang gagal dan juga buruk.” Ummu Surur bertanya, “Perilaku seperti apa yang berkaitan dengan apa yang terjadi padamu?” “Ambil contoh, misalnya, dua hari yang lalu aku di undang ke pesta ulang tahun salah satu mahasiswiku. Pesta itu membebaniku dan memaksaku. Aku tidak merasa bahagia dan tenang, tetapi sebaliknya aku berdiri melawan gelombang-gelombang yang mencekik dan menyakitiku.” “Aku heran dengan masalahmu, adikku. Apa yang mendorongmu bersikap semacam ini?” “Aku katakan kepadamu, kehampaan dan masa muda. Aku sungguh bosan sendirian. Aku merasa sedang menginginkan seorang gadis yang bisa berbagi pikiran, ambisi, perasaan, dan juga rencana-rencana yang akan datang.”
“Dan kenapa kamu belum memilih salah satu di antara gadis-gadis yang ada di sekelilingmu?”

“Pada kenyataannya perasaanku terbagi dua. Aku hidup di Amerika dengan kebebasan penuh, hingga pikiran dan prinsipku menjauh dari akar dan asalku. Di kampus aku hidup pada masa pergulatan antara kebebasan dan keterikatan, antara pikiran yang modern dan yang kolot.” “Aku menyukai gadis modern yang bebas. Aku bisa bergaul dengannya, duduk bersamanya dengan santai di mana pun, bercanda dan menghabiskan waktu yang panjang bersamanya. Akan tetapi, pada akhirnya…….” Ia menepukkan kedua telapak tangannya sambil menggelengkan kepalanya karena menyesal. “Jadi, kau tidak tertawa bersamanya, tetapi kamu malah menertawakannya!” kata Ummu Surur kepadanya.
“Juga menertawakan diriku sendiri, saudariku. Aku menghormati gadis yang bertanggung jawab yang terkadang aku mendeskripsikannya dengan kaku dan rumit. Dan pada titik inilah aku dapat memutuskan diriku bersamanya, yaitu apakah aku akan menikahi seorang gadis yang tidak aku sukai ataukah seorang gadis yang tidak aku hormati?!”
“Tanyalah pada dirimu sendiri, Siraj. Kenapa kamu menyukai yang pertama dan kenapa kamu menghormati yang kedua?” “Yang pertama, bentuknya, ceria, kehidupan modern dengan segala arti kehidupannya, dia mewah dalam berpakaian, cekatan dalam berjalan, sangat lemah lembut dalam berbicara, dan dia sangat cantik. Terus terang aku suka dan sangat tertarik dengan tipe gadis seperti itu.” “Adapun yang kedua…”Dia diam sejenak, kemudian menarik nafas dalam-dalam, ia meluruskan duduknya dan tidak lama kemudian dia tampak serius.” “Beritahu aku apa pendapatmu, katakanlah Siraj” kata Ummu Surur.
“Pada awalnya, aku tidak mengetahui yang kedua kecuali di antara lembar-lembar jawabannya dan perilakunya. Padahal aku tidak berani untuk memandangnya. Aku belum mendengar suaranya kecuali hanya sepotong kalimat yang pendek. Akan tetapi, aku sangat yakin dia gadis yang pintar, berbudi pekerti yang baik, matanya bagus, menarik, dan pembawaannya tenang. Mata menjadi tenang saat melihatnya dan jiwa menjadi tentram saat berbicara dengannya.“ “Dia mempunyai prinsip dalam hidupnya. Dia bagaikan sutra, sutra yang belum pernah kulihat sebelumnya dalam hidupku. Aku gambarkan nilainya melebihi lembaga pendidikan karena dia memperoleh nilai paling tinggi yang belum pernah ada di fakultas itu selama 5 tahun.”

Ummu Surur tersenyum dan memandang adiknya dengan pandangan yang jauh sambil berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara para mahasiswi yang ada di Universitas seseorang seperti dia sebagai panutan.” Kemudian ia menggelengkan kepalanya dan menoleh ke adiknya lalu berkata, “Pertimbanganmu begitu sulit, adikku. Mari kita coba selesaikan masalahnya setahap demi setahap.” Sejurus kemudian ia bertanya, “Apakah mungkin kau menghormati orang yang kau cintai?” Cepat-cepat dia menyela, “Mustahil, mustahil….” Ummu Surur memberi isyarat dengan tangannya dan berkata, “Dengarkan dulu, aku akan menyelesaikan perkataanku.” “Apakah mungkin kau mencintai orang yang kau hormati?” Siraj memandang jauh dan menggelengkan kepalanya pelan-pelan dan berkata, “Aku tidak tahu, tapi….”

Si kecil Sarah memotong pembicaraan mereka dengan tangis dan teriakannya. Ummu Surur buru-buru mendatanginya, mencoba menenangkannya, tetapi ia masih menangis dengan tersedu-sedu. Surur datang untuk memberitahu ibunya bahwa Sarah bersedih karena kehilangan kalung emasnya yang ia pakai di dadanya sebelum ia jalan-jalan di pagi hari. Ibunya mencoba untuk menenangkannya, tetapi ia belum berhasil. Ia meminta Sarah menunggu hingga pagi agar bisa di cari dengan lebih teliti. Sarah segera menjawabnya, “Aku tidak akan meninggalkan kalungku.” Surur pun berkomentar, “Mungkin ada selain kita yang datang dan mengambil kalungnya.” Siraj mengusulkan membawa si kecil kembali ke tempat di mana mereka datang pada pagi tadi. Surur juga mengusulkan untuk membawa lampu kecil untuk mencari kalung emas yang hilang di tengah-tengah kegelapan.

Siraj dan kedua bocah itu bersiap-siap untuk keluar di saat Ummu Surur bosan dan simpati kepada adiknya. Ia ingin menyelesaikan percakapan yang belum tuntas. Akan tetapi, teriakan Sarah memaksanya untuk setuju meskipun enggan. Siraj mulai berjalan bersama si kecil, dan Surur merasa senang dengan lampu kecil yang ia bawa. Ia mengarahkannya ke kiri dan ke kanan serta ke arah yang ia sukai meski itu tidak perlu. Ia bahagia melihat tangannya dan menyeringai, kemudian ia tiba-tiba berhenti, melihat pamannya dan bertanya, “Paman, mengapa mereka memberi Paman nama Siraj? Apakah kupu-kupu itu berjatuhan di sekitar Paman lalu mati?” Siraj tercengang dengan pertanyaan itu, lalu meralatnya, “Tanyalah pada Ibumu kenapa nenek memberi Paman nama Siraj. Dan kenapa mereka memberimu nama Surur?”Surur menganggukkan kepalanya dan berkata, “Ketika aku kembali ke Ibu, aku akan menanyakannya.”

Mereka bertiga terus berjalan dan mencari kalung emas yang hilang itu. Siraj meminta Surur untuk memusatkan sinar lampunya pada sebagian tempat ketika mereka duduk di pagi hari. “Kenapa Paman?” tanya Surur. “Emas itu akan berkilat jika kita mengarahkannya ke cahaya. Berbeda dengan kupu-kupu, Surur.” Siraj diam sejenak dan merasa bahwa perumpamaan ini pantas ditunjukkan kepada dirinya sebelum kepada orang lain.
Semuanya mencari kalung yang hilang itu tanpa hasil. Siraj memutuskan untuk kembali, karena waktu sudah larut. Sementara Sarah terus menerus meratap dan menangis.
Siraj menjanjikannya dengan janji yang berbeda-beda, tetapi Sarah bersikeras pada kalung emas yang berharga itu saja. Dia tidak ingin yang lain, karena kalung itu adalah hartanya yang berharga.

Siraj menggendong si kecil Sarah dan kembali ke rumah mereka, sementara Sarah meratap sedih karena kehilangan kalungnya. Saat Siraj berjalan melewati jalan di celah bukit, ia tergelincir dalam kubangan lumpur hingga setengah kakinya pun berlumpur. Siraj merasa sangat jijik dan cemas, lalu ia berpaling ke arah Surur dan berkata, “Hati-hati Surur, di sini banyak kubangan lumpur. Menjauhlah dan jagalah kebersihanmu, Paman sudah banyak kena lumpur banyak dan nanti aku akan berusaha membersihkannya.”

Siraj pun duduk di atas tanah dan mencoba membersihkan lumpur semampunya. Ia merenungkan pemandangan gunung yang tinggi di depannya, di bawah sinar bulan yang redup. Ia ingat akan ayat-ayat Al-Qur’an yang ia dengar dari si kecil di pagi hari. Ia merasakan perasaan yang asing. Ia ingin jika waktunya masih lama, ia duduk sendirian dengan tenang sambil berfikir dan merenung. Namun ia harus cepat karena Sarah yang sedih kehilangan benda kesayangannya itu tidak henti-hentinya meratap dan menangis.
Siraj menggendong Sarah, memegang tangan Surur dan dengan cepat menuju rumah. Setelah Siraj berusaha dengan sungguh-sungguh, ia merasa sangat lapar. Sesampainya di rumah saudara perempuannya, Siraj mencium aroma makanan yang lezat. Abu Surur menyambut mereka bertiga dan berkata, “Kenapa kalian terlambat, Siraj?” “Tampaknya kalung emas itu telah hilang, kami telah memeriksa tempat yang dilewati Sarah, tetapi kami tidak menemukannya.” “Apa engkau yakin hilangnya kalung itu engkau harapkan Siraj? Kita pikirkan yang lain saja, ayo kita makan dulu.” Semua duduk di meja makan sementara Siraj terus saja bersedih atas hilangnya kalung itu. Ia tidak tahu kenapa ikut bersedih dengan musibah yang menimpa Sarah. Ia merasa benci dengan keadaan saudara perempuan dan suaminya yang menggampangkan suatu masalah. Ummu Surur memandang Siraj dan berkata, “Cukuplah semua kesedihan ini, Siraj. Jika memang kalung itu milik kami, maka kehilangan itu sudah menjadi nasib yang nanti akan kembali kepada kami.” Ummu Surur kembali memadangnya, “Kita selesaikan pembicaraan yang telah kita mulai tadi pagi.”

Kemudian Ummu Surur memandang Abu Surur dan berkata, “Aku dan Siraj telah sampai pada titik penting pembicaraan. Dan Siraj ingin mendengar pendapatmu. Aku akan pergi menidurkan anak-anak, dan aku akan kembali setelah itu.” Abu Surur memandang istrinya dan berkata, “Apa titik penting persoalan itu?” Ia lalu memandang Siraj yang tampak putus asa dan bersedih. Air muka Siraj mulai memancarkan senyuman yang dibuat-buat dan berkata, “Pertanyaan yang selalu melekat padaku, apakah aku akan menikahi gadis yang aku cintai atau gadis yang aku hormati?”

Abu Surur bersandar pada sofa dan meminum kopi lalu berkata, “Siraj, hati-hatilah menikahi gadis yang tidak kau hormati, karena menurutku gadis yang tidak berhak mendapat kehormatan tidak berhak pula atas cinta, penghargaan, dan juga perhatian. Dan yang paling utama, dia tidak mungkin menjadi istri yang setia atau ibu yang dapat dipercaya.”
“Dan engkau sekarang melewati perjalanan waktu dengan hanya mencari hiburan, kesenangan, dan kegembiraan. Akan tetapi, ketika engkau menjadi ayah, pertimbangan-pertimbanganmu akan berubah dan berganti.” “Maka mulai sekarang, pilihlah gadis yang akan menjadi ibu bagi anak-anakmu dan bukan hanya sebagai teman bagimu. Dan jadikan sebagai keyakinan pada dirimu bahwa gadis yang shalehahlah yang bisa menjadi teman, sahabat, dan juga ibu.” Siraj mendengarkan perkataan Abu Surur dengan serius, hingga ia menjadi kagum dan hormat kepadanya. Dengan ke dalaman jiwanya, ia membandingkan perkataan Abu Surur dengan jawaban-jawaban ‘Afaf di atas lembar-lembar ujian.

Kepalanya terasa pusing hingga ia diam sejenak dan merasakan darahnya naik ke ubun-ubun sampai ia lupa diri, lupa bahwa kakinya masih ada bekas lumpur. Maka ia meminta izin untuk membersihkan diri dan mandi. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Abu Surur atas perhatiannya dan ia berjanji untuk menyelesaikan perbincangan itu esok pagi.
Namun waktu kepergian Siraj semakin dekat. Ia telah menjelaskan hal itu pada saudara perempuannya bahwa dia akan pergi besok sore atau lusa. Ummu Surur berusaha membuatnya tinggal lebih lama lagi. Akan tetapi, ia berkata pada saudara perempuannya kalau ia di kota banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum kuliah mulai berlangsung. Yang membuatnya susah adalah menyusun nama-nama mahasiswa terdepan yang mengambil mata kuliah yang diampunya dan juga menyusun jadwal untuk kelas berikutnya. Ia menolak urusan-urusan yang ruwet karena ia tidak membawa berkas-berkasnya kecuali sebagian lembar-lembar yang bentuk akhirnya akan disusun menjadi majalah dinding.
Ummu Surur memandangnya dan berkata, “Majalah dinding? Coba kau tunjukkan agar kami bisa membaca isi majalah kalian.” Siraj pun berjanji akan memberikannya untuk dibaca, kemudian ia meminta izin dan masuk ke dalam kamar untuk tidur.

*********

Malam pun berlalu dengan tenangnya. Sementara di dalam hatinya, Siraj menyaksikan banyak sekali benturan-benturan dan bermacam perselisihan. Ia sangat bernafsu untuk masuk mengingat keadaan dirinya di kampus. Ia ingin meledakkan rasa sakit, sedih, dan kesalnya ketika terjatuh dalam kubangan lumpur. Lalu ia mulai bercakap-cakap dengan dirinya sendiri, “Siraj, sampai kapan engkau tetap menjadi dahan yang terbang melayang terpisah dari fitrah dan akarmu? Sampai kapan engkau akan bermain-main, bersenda gurau dan tertawa dengan mulutmu sementara hatimu menangis? Sekaranglah saatnya bagimu menentukan jati dirimu agar engkau tahu siapa yang akan kau pilih sebagai istrimu kelak!!”
“Siraj, kenapa engkau bergumul dengan dirimu sendiri sekarang? Apakah karena engkau telah kembali ke rumahmu, keluargamu, dan saudaramu? Ataukah karena engkau akan kembali ke kampus dan teman-teman perempuanmu? Ataukah karena kehidupan kakakmu banyak membekas pada tempat-tempat dalam dirimu yang engkau kira sudah mati?”
“Kenyataannya engkau belum mempersiapkan hari esokmu sedikitpun. Lalu bagaimana engkau akan menghadap-Nya? Tampaknya engkau telah melupakan Allah sehingga Allah membuatmu lupa akan dirimu sendiri!! Celakalah engkau doktor. Anak-anak kecil yang masih suci saja lebih baik dalam memahami aturan-aturan hidup daripada dirimu! Dan engkau seperti yang di katakan seorang penyair: Berapa orang yang pandai dalam memberikan pelajaran. namun mereka tidak pandai dalam menghadapi hidup!”
“Tetapi, tidak. Aku akan bangkit dari keterpurukanku. Aku akan memilih jalanku sendiri dan aku akan tinggal dengan salah satu dari mereka.”

Potret ‘Afaf mulai terbayang di depan matanya. Lembaran-lembaran itu, ya, lembaran-lembaran itu! Sungguh mengagumkan jawaban-jawabannya itu. Ia bangkit dengan cepat dan membuka tas yang ada di sampingnya. Ia melihatnya dan memikirkan sampul majalah dinding itu dan membaca jawaban-jawaban dari ‘Afaf. “Engkau, ‘Afaf, engkaulah mata air segar yang berkilauan, memancar turun dari atas (langit) dan mengairi dahaga. Dan aku, ya ‘Afaf, aku sedang mati kekeringan. Engkaulah permata yang aku cari.” “Engkaulah pemilik gagasan dan prinsip. Dari gagasanmulah engkau mengairi filsafatku. Dan dari prinsip-prinsipmulah garis hidupku tergambar jelas.” Tubuhnya menjadi tenteram dan jiwanya menjadi tenang. Dan ia membayangkan ‘Afaf telah berada di sisinya. Setelah itu ia pun tertidur dengan lelapnya.

Keesokan harinya, ia membawa lembaran-lembaran itu dan menyerahkannya kepada kakaknya. Sang kakak pun membacanya, mempelajarinya, dan membahasnya.
“Menurutku, gadis ini laksana intan permata. Boleh dibilang, mutiara yang terpendam. Engkau mengenalnya, tetapi kenapa tidak mendekatinya?.” Setelah terdiam sesaat ia melanjutkan, “Tetapi Siraj, aku khawatir padamu. Maksudku, aku khawatir dia tidak suka padamu.” Abu Surur memotong perkataan istrinya, “Biarkan dia mendekatinya terlebih dahulu. Dan kalau ia mendapat kesulitan, kami akan ada untukmu. Sepertinya dia gadis yang akan menjadi istri yang menyenangkan dan ibu yang baik. Dan aku rasa dia pun bisa jadi pendakwah yang baik.” “Jangan ragu-ragu, Siraj. Dari sekarang kami merestuimu.”
Siraj bahagia dengan adanya dukungan ini.“Besok aku akan pergi dan akan kurengkuh hari esok.”

Esok harinya, Siraj meninggalkan keluarga yang menyenangkan itu. Ia memeluk Sarah dengan hangat, ia menghiburnya atas hilangnya kalung emas kesayangannya, mungkin untuk yang kesepuluh kalinya. Setelah itu ia pun pergi menyongsong hari esoknya.
Ia serasa terbang karena rasa senang atas keputusannya itu. Ia ingin tahu pendapat ‘Afaf tentang apa yang ia liat dan dengar dalam perjalanannya kali ini. Untuk pertama kalinya, dia merasa sedang berdenyut dengan denyut nadi ‘Afaf. Dan ia mengangkat ‘Afaf nya hingga ke puncak hingga ia merasa dunia ada di antara tangannya, dan jika mungkin, ia akan membagi kebahagiaannya dengan dunia jika ia sudah mendapatkan ‘Afaf. Ia ingin memasukan kaset lagunya ke dalam tape, tetapi ia merasa kalau ruh ‘Afaf melarangnya. Dan ia pun berkata, “Baiklah, aku akan membiasakan diri untuk mengikuti keinginanmu, wahai rembulanku yang tenang.”

Sesampainya di rumah, ia bersenandung riang. Dia mengatur barang-barangnya dan ingin menanyai benda-benda itu, “Bagaimana pendapatmu tentang ‘Afaf? Apakah kalian akan senang bersama kami di masa yang akan datang?” Dia masuk ke kamar mandi dan mandi berkali-kali, seakan ia ingin mengganti warna kulitnya. “Besok kita akan bertemu di kampus, ‘Afaf.” Ia berkata pada dirinya sendiri. “Tetapi burung ini terbang, bagaimana aku menangkapnya?” Ia membisiki telinganya dan berkata, “Ayo kita ikuti dia!!”

Ia mendapatkan ide. Ia akan mulai mencarinya di kantor registrasi. Dia pasti akan mendaftar untuk mata kuliah lanjutan. ‘Afaf pasti belum menyelesaikan syarat-syarat kelulusannya. Dia tertawa sendiri dan berkata, “Kadang-kadang kesusahan itu menguntungkan. Padahal aku tidak suka menyulitkan syarat-syarat kelulusan, tetapi kini aku sangat menyukainya. Dari situlah aku akan menangkap burungku yang terbang!!”
Keesokan harinya, Siraj pun berhias, menyisir rambut dan memakai parfum yang wangi. Dia sangat tenang di dalam mobilnya yang mengkilat. Ia mengendarainya dan pergi ke kampus lalu menuju ke kantor registrasi.

Dengan ketenangan yang dibuat-buat, ia menanyakan nama-nama mahasiswa yang mendaftar untuk mata kuliah lanjutan. Pegawai yang ditanya pun memberikan daftar nama-nama itu, namun ia tidak mendapatkan nama ‘Afaf. Dari wajahnya tampak kemarahan.
“Baiklah, apakah ada sesuatu yang lainnya?” Tanya pegawai tersebut. “Tidak ada. Saya hanya ingin membaca nama-nama mahasiswa yang akan mengikuti mata kuliah lanjutan.” Kemudian ia mengucapkan terima kasih dan pergi. Ia pergi ke kantornya dengan perasaan marah karena kantornya gelap dan tak terawat. Ia memanggil petugas kebersihan dan memintanya untuk membersihkan ruangannya dengan cepat. Dia kemudian pergi ke ruangan sebelah dan mengeluarkan kertas-kertas yang akan dipasang untuk majalah dinding. Ia memasang wawancara dengan ‘Afaf di tempat tertinggi dan paling bagus. Ia menghiasinya dengan bunga-bunga dan meninggalkan kertas sisanya ketika datang salah satu mahasiswi yang akan memasangnya untuk menggantikannya. Kemudian ia memandang majalah itu dan berkata, “Pemandangan mengagumkan yang tidak bisa didapatkan kecuali darimu, ‘Afaf. Engkau bagai ratu yang duduk di atas singgasana kerajaanku!” Dan ketika ia hendak pergi terdengar suara pemuda yang memanggilnya dari jauh. Siraj berhenti dan melihatnya di kejauhan. Ia melihat seorang pemuda yang usianya masih muda dan di sampingnya ada seorang gadis. Ia memandang dengan tajam. “Ya Allah, itu ‘Afaf!” Darahnya naik ke ubun-ubun dan hampir saja ia buru-buru menemuinya, namun ia dapat menahan diri dan melangkah dengan langkah santai untuk menyambutnya. Pemuda itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Siraj dan berkata, “’Abdurrahman ‘Abdullah, saudara ‘Afaf.” Siraj menyambutnya dengan ramah dan mengundang mereka ke ruangannya. Akan tetapi, pemuda itu beralasan karena waktunya hanya sedikit. Kemudian ia mengeluarkan surat undangan dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Siraj dengan semangat sambil berkata, “Kami sangat terhormat bila anda berkenan untuk hadir.” Siraj pun menjawab sambil memandang ‘Afaf yang tampak di depan matanya. Ia sekarang lebih cantik daripada gadis manapun di dunia, iapun tersenyum dan berkata kepada saudara ‘Afaf, “Saya juga merasa terhormat.”

Siraj membawa surat tersebut dan menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Kemudian ia pergi ke ruangannya dan berbicara sendiri, “Akhirnya, wahai burung yang selalu terbang, aku akan bertemu denganmu di suatu tempat selain kampus. Akhirnya, ya ‘Afaf…..” Ia mulai bersenandung riang dan berjalan layaknya sedang menari dengan senangnya.
Ia kemudian memanggil pelayan, “Tolong buatkan saya dua cangkir teh.”
Pelayan itu menjawab dengan bingung, “Untuk Anda sendiri atau anda sedang menunggu tamu?” “Tidak, untuk saya sendiri,” Dia berkata pada dirinya sendiri. “Untukku dan untuk burungku yang cantik, yang akan terbang bersamaku.”

Kemudian ia bersandar di kursinya, membuka surat undangan itu dan membacanya.
Suatu kehormatan bagi keluarga Bapak ‘Abdul Hadi ‘Aqil beserta keluarga Bapak ‘Abdullah Ah}mad dapat mengundang Saudara untuk hadir pada pesta pernikahan putra putri kami:
Ir. Salim ‘Abdul Hadi dengan ‘Afaf ‘Abdullah

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Hasil terjemahan pada Bab II dari novel ‘Afaf bukan merupakan hasil terjemahan dari keseluruhan cerita. Meskipun demikian, terjemahan tersebut sudah dapat memberikan sedikit gambaran tentang jalan pikiran pengarang. Tampaknya dalam novel tersebut pengarang ingin menggambarkan contoh sosok yang sedang mengalami sebuah kebimbangan dalam menentukan pilihan hidup melalui sosok Dr. Siraj, salah satu dari tokoh yang terdapat dalam novel ini. Dr. Siraj dalam cerita ini digambarkan sedang melalui masa di mana ia harus menentukan siapa yang harus dipilihnya untuk menjadi pendamping hidup. Apakah ia akan menikahi gadis yang ia sukai ataukah gadis yang ia hormati.

3. Kesulitan dalam Penerjemahan

Kesulitan yang dihadapi penulis di dalam menerjemahkan karya ‘Afaf antara lain :

  1. Keterbatasan kosakata Arab yang penulis miliki sebagai modal dasar penerjemahan.
  2. Kurangnya pemahaman idiom-idiom yang digunakan.
  3. Terbatasnya buku-buku pedoman terjemahan baik teori-teori yang digunakan maupun proses penerjemahan.

4. Saran-Saran

Setelah menyelesaikan proses penerjemahan pada bab II dari novel ‘Afaf dalam tugas akhir ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan penerjemah apabila ingin menerjemahkan sebuah karya sastra, di antaranya :

1.Hendaknya menguasai bahasa sumber maupun bahasa sasaran.

2.Aktivitas penerjemahan itu membutuhkan kesabaran dan juga ketekunan.

3.Menggunakan metode yang tepat sesuai dengan tujuan sehingga dalam menerjemahkan dapat tepat guna.

4.Memiliki wawasan yang luas tentang penerjemahan.

5.Menjadikan kamus sebagai teman terbaik.

Setelah karya ini diterjemahkan dan pembaca mengetahui isi, jalan cerita, serta gagasan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui tokoh cerita tersebut, diharapkan karya ini dapat dijadikan sebagai cermin dalam kehidupan nyata.

DAFTAR PUSTAKA

Al-H}ulw, Um H}assan, 1993. ‘Afaf Qis}s}atun Hadifatun. Beirut: Dar Ibn H}azm.

Maufur, Mustolah. 1993. Belajar Menterjemah, Dengan contoh dalam bahasa Inggris, Arab dan Indonesia. Wonosobo: RATNA PRESS.

Rochayah, Machali, 2000. Pedoman Bagi Penerjemah. Jakarta: PT Grasindo.
Sangidu, 2004. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat. Yogyakarta: Unit Penerbitan Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an, 2002. Mus}haf Al-Qur’an Terjemah edisi 2002. Yogyakarta: Al Huda.

Komentar
  1. funktaztic.com mengatakan:

    10 Alasan Pembaca Tidak Berkomentar…

    I found your entry interesting thus I’ve added a Trackback to it on my weblog :)…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s