MANAJEMEN RESIKO DALAM KEWIRAUSAHAAN MENURUT ISLAM

Posted: Juli 8, 2010 in syari'ah

PENDAHULUAN

Dalam pandangan Islam, bekerja dan berusaha, termasuk berwirausaha boleh dikatakan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia karena keberadaannya sebagai khalifah fil-ardh dimaksudkan untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang lebih baik.

Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu.[1]

Dalam kamus Bahasa Indonesia, wirausaha diidentikkan dengan wiraswasta, sehingga wirausahawan dapat disebutkan sebagai “orang yang pandai atau berbakat mengenal produk baru, menentukan cara produksi baru, dan menyusun pedoman operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.[2]

Para wirausaha adalah individu-individu yang berorientasi kepada tindakan, dan bermotivasi tinggi yang mengambil risiko dalam mengejar tujuannya. Berani mengambil resiko adalah salah satu cirri-ciri dan sifat-sifat yang melekat pada seorang wirausahawan. Seorang wirausahawan harus mempunyai kemampuan mengambil resiko dan suka pada tantangan.

Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib dan teratur. Dalam mengambil resiko pun Allah dan Rasul-Nya selalu memberikan petunjuknya di dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Dalam Islam, anjuran untuk berusaha dan giat bekerja sebagai bentuk realisasi dari kekhalifahan manusia tercermin dalam surat Ar-Ra’d : 11 yang maksudnya “ Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu mau merubah dirinya sendiri”. Menurut al-Baghdadi sebagaimana dikutip Yusanto dan Kusuma bahwa ayat ini bersifat a’am. Yakni siapa saja yang mencapai kemajuan dan kejayaan bila mereka sudah merubah sebab-sebab kemundurannya yang diawali dengan merumuskan konsepsi kebangkitan.[3]

Dalam makalah ini penulis akan sedikit menjelaskan bagaimana manajemen resiko dalam suatu usaha yang baik menurut Al-Qur’an dan Hadits.

PEMBAHASAN

Tak satu pun bisnis yang luput dari risiko kerugian dalam perjalanannya. Jadi jika pebisnis ingin mencari bisnis yang tidak memiliki risiko, jawabnya adalah nihil. Setiap bisnis pasti memiliki risiko, yang berbeda adalah kadar tinggi rendahnya risiko tergantung bidang yang dipilih.

Usaha, bisnis, perniagaan atau apapun namanya tidak akan lepas dari untung dan rugi. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan kita peroleh dari hasil usaha kita.

Firman Allah dalam surat Luqman ayat 34:

وما تدري نفس ماذا تكسب غدا

“…dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa-apa yang diusahakannya besok…” (QS Luqman: 34).

Dengan demikian, untung atau rugi akan senantiasa menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan oleh setiap usahawan atau kalangan pebisnis. Ayat tersebut juga merupakan salah satu ayat yang menjelaskan pentingnya manajemen risiko dalam kacamata Ekonomi Islam.

Namun sebenarnya, kalangan pebisnis tidak perlu kawatir tentang untung rugi ini karena Allah sendiri bersedia menunjukkan jalan agar usaha kita senantiasa dilimpahi keuntungan dan keberkahan.

Namun jangan takut, pada dasarnya tersedia ilmu yang dapat digunakan pebisnis untuk mengelola risiko sehingga dapat dikendalikan sesuai harapan. Ilmu yang dimaksud tak lain adalah manajemen risiko. Manajemen risiko merupakan kegiatan yang menggunakan proses, metode dan alat-alat untuk mengelola risiko bisnis/usaha.

Menurut James A.F. Stoner[4] manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan semua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Berkaitan dengan risiko, Sri Redjeki Hartono[5] menyatakan bahwa : “Risiko adalah suatu ketidakpastian di masa yang akan datang tentang kerugian”. Adapun Subekti[6] mengartikan risiko ialah “kewajiban memikul kerugian yang disebabkan karena sutau kejadian di luar kesalahan salah satu pihak”. Pada kesempatan yang lain Subekti berpendapat bahwa kata risiko, berarti kewajiban untuk memikul kerugian jikalau ada suatu kejadian di luar kesalahan salah satu pihak yang menimpa benda yang dimaksudkan dalam perjanjian.

Perencanaan atau planning adalah kegiatan awal dalam sebuah pekerjaan dalam bentuk memikirkan hal-hal yang terkait dengan pekerjaan itu agar mendapat hasil yang optimal. Oleh karena itu perencanaan merupakan sebuah keniscayaan, sebuah keharusan di samping sebagai sebuah kebutuhan. Segala sesuatu memerlukan perencanaan. Dalam hadits Rasulullah saw. Bersabda,

اذا ارادت ان تفعل امرا فتدبر عاقبته فان كان خيرا فامض وان كان شرا فانته

(رواه ابن المبارك)

Jika engkau ingin mengerjakan suatu pekerjaan maka pikirkanlah akibatnya, maka jika perbuatan tersebut baik, ambillah dan jika perbuatan itu jelek, maka tinggalkanlah.”

Konsep manajemen islam menjelaskan bahwa setiap manusia (bukan hanya organisasi) hendaknya memperhatikan apa yang telah diperbuat pada masa yang lalu untuk merencanakan hari esok. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr: 18, Allah swt. berfirman,

يايها الذين امنوا اتقواالله ولتنظر نفس ماقدمت لغد ۖ واتقوااللهۚ ان الله خبير بما تعملوان

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan  apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Konsep ini menjelaskan bahwa perencanaan yang akan dilakukan harus disesuaikan dengan keadaan situasi dan kondisi pada masa lampau, saat ini dan prediksi masa datang. Oleh karena itu, untuk melakukan segala perencanaan masa depan, diperlukan kajian-kajian masa kini. Bahkan karena begitu pentingnya merencanakan masa depan, muncul ilmu yang membahas dan meramalkan masa depan yang disebut “futuristic”

Perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan. Tak dapat dibayangkan jika seseorang berhasil tanpa perencanaan. Pun seandainya berhasil, maka keberhasilan yang diperoleh mungkin bersifat semu. Sesuatu yang melalu perencanaan, walaupun dalam kenyataannya tidak 100 % sesuai dengan harapan, tetapi sebenarnya kemampuan merencanakan yang telah di lakukan juga merupakan sebuah hasil yang patut diberikan penghargaan[7].

Apakah kendala yang kita hadapi ketika menyusun perencanaan merupakan peluang atau justru sebuah hambatan? Disadari atau tidak, dalam merencanakan sesuatu, kita akan menemukan faktor-faktor yang akan menjadi kendala untuk melaksanakan suatu program. Sebenarnya, jika kita melihat sejarah kehidupan Rasulullah saw., kendala itu selalu dijadikan sebagai peluang dan bukan dianggap sebagai hambatan. Kendala itu dijadikan sebagai sebuah peluang untuk meningkatkan kualitas kerja.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Insyira: 5-6, Allah berfirman,

فان مع العسر يسرا(۵) ان مع العسر يسرا(٦)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

..واعلم ان النصرمع الصبر وان الفرح مع الكرب وان مع العسر يسر (رواه الترمذى)

“… Ketahuilah bahwa bersama kesabaran ada kemenangan, bersama kesusahan ada jalan keluar, bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR Tirmidzi)

Dalam sebuah ayat, Allah berfirman: “Maukah engkau Aku tunjukkan jalan ke arah perniagaan yang menguntungkan?”

Menguntungkan alias tidak merugi. Kemana kita mencari petunjuk Allah tersebut? Jawabannya sederhana. Perhatikan istilah “tidak merugi”. Istilah tersebut dapat kita temukan dalam sebuah surat pendek yaitu Al Ashr. Allah berfirman dalam surat tersebut:

1. Demi Masa

2. Sesungguhnya manusia senantiasa berada dalam kerugian.

3. Kecuali mereka yang Beriman, Beramal Sholeh, Saling mengingatkan dalam kebenaran dan Saling mengingatkan dalam kesabaran.

Dalam tafsir menurut pandangan ekonomi islam, berdasarkan surat tersebut, ada 4 kriteria agar usaha kita tidak merugi alias menguntungkan[8]:

1. Beriman, ini kaitannya dengan Hablumminallah. Bisnis, akan senantiasa dikaruniai keuntungan dan keberkahan selama pelakunya tetap beriman kepada Allah. Keuntungan tersebut bukan semata-mata diukur dari nominalnya uang, tapi juga keberkahan dari rejeki tersebut.

2. Beramal sholeh, berkaitan dengan hablumminannas. Berbuat baik selama menjalankan usaha, tidak berat menolong mereka yang dalam kesulitan, katakanlah masalah permodalan, perizinan, relasi. Insya Allah, amal tersebut akan dibalas dengan keuntungan yang berlipat ganda.

3. Saling mengingatkan dalam kebenaran, berkaitan juga dengan habluminannas. Dalam berbisnis, kejujuran merupakan salah satu aspek yang sangat berharga. Kejujuran dapat mempererat relasi dengan mitra bisnis kita, sehingga wajar apabila ia dikatakan sebagai mata uang yang berlaku dimana-mana. Sebagai usahawan yang islami, kita perlu untuk saling mengingatkan sesama kita, agar selalu menjalankan usaha dalam koridor islam, misalnya menghindari praktek penyuapan, penyelundupan, penipuan, mengurangi timbangan, korupsi dan sebagainya. Senantiasa di jalan kebenaran, jalan yang diridhoi Allah, maka Allah akan menambah rezeki dan nikmat-Nya kepada kita.

4. Saling mengingatkan tentang sabar, juga berkaitan dengan habluminannas. Menjalankan usaha tidak terlepas dari masa cerah dan masa suram. Saat masa suram, misalnya penjualan menurun, dagangan sepi, ataupun saat ditimpa musibah seperti ditipu mitra bisnis, maka tugas kita adalah untuk saling mengingatkan agar bersabar. Semua kendala, hambatan dan masalah itu bisa diambil hikmahnya. Insya Allah dengan mengingatkan dalam kesabaran ini, akan terbuka pintu rezeki lain, menemukan celah pasar yang baru misalnya dengan menggeser paradigma (paradigma shifting), ataupun merubah positioning, segmentation dan differentiation produk kita.

Demikian uraian singkat ini, yang mana dapat kita simpulkan bahwa dari 4 kriteria agar tidak merugi tersebut di atas, 3 di antaranya adalah menyangkut hubungan antar manusia (habluminannas). Kesimpulan itu sungguh sesuai dengan konsep ekonomi, di mana ekonomi adalah kerja kolektif, kerja sosial. Setiap individu tidak akan bisa maju dan berkembang tanpa adanya interaksi dengan individu lain. Seperti sarang lebah, setiap bidang heksagon harus berinteraksi dengan bidang heksagon lain sehingga tercipta sarang berisi madu yang kuat dan bermanfaat bagi umat.

Firman Allah dalam surat An Nahl ayat 69:

“Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”

KESIMPULAN

Tak satu pun bisnis yang luput dari risiko kerugian dalam perjalanannya. Jadi jika pebisnis ingin mencari bisnis yang tidak memiliki risiko, jawabnya adalah nihil. Setiap bisnis pasti memiliki risiko, yang berbeda adalah kadar tinggi rendahnya risiko tergantung bidang yang dipilih.

Usaha, bisnis, perniagaan atau apapun namanya tidak akan lepas dari untung dan rugi. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan kita peroleh dari hasil usaha kita.

Salah satu ciri seorang wirausahawan adalah berani mengambil resiko. Namun dalam mengambil resiko dari suatu usaha diperlukan sebuah manajemen yang baik sehingga dalam suatu usaha resiko apapun dapat diatasi dengan baik sehingga hasilnya menjadi sebuah keuntungan untuk wirausahawan tersebut.

Dari pembahasan diatas dapat di ambil kesimpulan bahwa salah satu manajemen yang baik adalah sebuah perencanaan yang baik dalam suatu usaha. Perencaan yang melihat masa lalu maupun memprediksi apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang.

Banyak petunjuk baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits nabi yang menunjukkan bagaimana cara memanajemen sebuah resiko dan bagaimana mengatasi resiko yang datang dalam usaha kita.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Materi Kewirausahaan dalam HYPERLINK http://www.e-dukasi.net/modul_online/MO_11/eko206_11.htm
  2. Suryanto (ed), Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Apollo, 1977 ).
  3. M. Ismail Yusanto dan M. Karebet Wijayakusuma. Menggagas Bisnis Islami. (Jakarta: Gema Insani Press, 2002)
  4. http://organisasi.org/pengertian_definisi_dari_manajemen
  5. Sri Redjeki Hartono, 1995, Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi, Sinar Grafika, Jakarta
  1. Subekti, 1982, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Intermasa, Bandung
  2. http://aburasyidin.blogspot.com/2004/11/bisnis-yang-menguntungkan-menurut.html
  1. Didin Hafidhuddin, Hendri Tanjung, 2003, Manajemen syariah dalam praktek, Gema Insani Press, Jakarta.

[1] Materi Kewirausahaan dalam HYPERLINK “http://www.e-dukasi.net/modul_online/MO_11/eko206_11.htm”

[2] Suryanto (ed), Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Apollo, 1977 ).

[3] M. Ismail Yusanto dan M. Karebet Wijayakusuma. Menggagas Bisnis Islami. (Jakarta: Gema Insani Press, 2002)

[4] http://organisasi.org/pengertian_definisi_dari_manajemen

[5] Sri Redjeki Hartono, 1995, Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi, Sinar Grafika, Jakarta

[6] Subekti, 1982, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Intermasa, Bandung

[7] Didin Hafidhuddin, Hendri Tanjung, 2003, Manajemen syariah dalam praktek, Gema Insani Press, Jakarta.

[8] http://aburasyidin.blogspot.com/2004/11/bisnis-yang-menguntungkan-menurut.html

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s