PENGARUH IMAN KEPADA ALLAH DAN HARI AKHIR BAGI PENDIDIKAN ANAK

Posted: Juni 30, 2010 in syari'ah

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan bekal bagi setiap orang dalam menjalani kehidupan ini, pendidikan juga memiliki peran yang penting dalam membangun kehidupan suatu bangsa, tanpa pendidikan manusia akan menjadi bodoh dan kebodohan itu dekat dengan kemiskinan.

Ada yang beranggapan bahwa cara yang ditempuh agama berupa menanamkan perasaan takut kepada Allah dan merasa khawatir terhadap perhitungan di hari akhir berpengaruh negatif bagi pendidikan, tak sesuai dengan kepribadian yang merdeka.

Namun pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, menyebabkan dunia pendidikan di Indonesia sedikit tercoreng dengan segala ulah dan perilaku baik itu dari beberapa oknum pendidik yang tidak bisa menjadi panutan bagi anak didiknya, maupun para murid yang karena perkembangan teknologi semakin jauh dari agama.

Pergaulan bebas yang saat ini telah menjalar dalam diri sekelompok murid-murid sekolah membuat kita miris melihatnya.

Maka dari itu dalam makalah ini penulis mencoba untuk membahas tentang betapa pengaruh iman kepada Allah dan hari akhir mempunyai peran yang penting dalam dunia pendidikan.

PENGERTIAN IMAN KEPADA ALLAH DAN IMAN KEPADA HARI AKHIR

Menurut bahasa iman berarti pembenaran hati, sedangkan menurut istilah, iman adalah:

تصديق بالقلب واقرار باللسان وعمل بالاركان

Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan”.

Ini adalah pendapat jumhur. Dan Imam Syafi’i meriwayatkan ijma para sahabat, tabi’in dan orang-orang sesudah mereka yang sezaman dengan beliau atas pengertian tersebut.1

Beriman kepada Allah yaitu keyakinan yang sesungguhnya bahwa Allah adalah wahid (satu), ahad (esa), fard (sendiri), shamad (tempat bergantung), tidak mengambil shahibah (teman wanita atau istri) juga tidak memiliki wahad (seorang anak). Dia adalah pencipta dan pemilik segala sesuatu, tidak ada sekutu dikerajaan-Nya. Dialah Al-Khaliq (yang menciptakan), Ar-Raziq (Pemberi Rizki), Al-Mu’thi (Pemberi Anugrah), Al-Mani’ (Yang Menahan Pemberian), Al-Muhyi (Yang Menghidupkan), Al-Mumit (Yang Mematikan), dan yang mengatur segala urusan makhlukNya.

Dialah yang berhak disembah, bukan yang lain, dengan segala macam ibadah, seperti khudhu’ (tunduk), khusyu’, khasyyah (takut), inabah (taubat), qasd (niat), thalab (memohon), do’a, menyembelih, nadzar dan sebagainya.

Beriman kepada hari akhir 2adalah rukun kelima dari rukun-rukun iman. Artinya ialah meyakini dengan pasti kebenaran setiap hal yang diberitakan oleh Allah SWT dalam kitab suciNya dan setiap hal yang diberitakan oleh RasulNya mulai dari apa yang akan terjadi sesudah mati, fitnah kubur, adzab dan nikmat kubur, dan apa yang akan terjadi sesudah itu seperti kebangkitan dari kubur, mahsyar (tempat berkumpul dihari akhirat), shuhuf (catatan amal), hisab (perhitungan), mizan (timbangan), haudh (telaga), shirath (titian), syafa’ah (pertolongan), surga dan neraka serta apa-apa yang dijanjikan Allah bagi para penghuninya.

Dalil-dalil tentang kewajiban beriman terhadap hal-hal tersebut banyak sekali. Ada yang bersifat umum tentang beriman kepada perkara-perkara akhirat sebagai pujian atas orang-orang mukmin yang mengimani adanya hari Akhir, atau sebagai perintah untuk mengimani hal tersebut. Ada juga yang bersifat khusus untuk sebagian perkara akhirat, seperti adzab kubur dan kenikmatannya, ba’ts (kebangkitan), hasyr (pengumpulan) dan lain-lain.

PENGERTIAN PENDIDIKAN

Pendidikan dalam bahasa Arabnya adalah tarbiyah dengan kata kerja rabba. Kata kerja rabba yang artinya mendidik sudah digunakan pada zaman Nabi. Dalam bentuk kata benda, kata rabba ini juga digunakan untuk Tuhan, karena Tuhan juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara, malah mencipta. Kata lain yang mengandung arti pendidikan adalah addaba3, dan allama.

Pendidikan berasal dari kata “didik”, mendapat awalan “me” sehingga menjadi “mendidik”, artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan menggunakan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam pengertian yang luas dan representatif, pendidikan adalah “the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all life’s experiences”4, yang berarti seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan. Pendidikan diartikan sebagai tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap, dan sebagainya.

Menurut konsep dalam Islam5, proses tarbiyah (pendidikan) mempunyai tujuan untuk melahirkan suatu generasi baru dengan segala ciri-cirinya yang unggul dan beradab. Penciptaan generasi ini dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketulusan yang sepenuhnya dan seutuhnya kepada Allah SWT melalui proses tarbiyah. Melalui proses tarbiyah inilah, Allah SWT telah menampilkan peribadi muslim yang merupakan uswah dan qudwah melalui Muhammad SAW. Peribadinya merupakan manifestasi dan jelmaan dari segala nilai dan norma ajaran Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW.

Islam menghendaki program pendidikan yang menyeluruh, baik menyangkut aspek duniawi maupun ukhrowi. Dengan kata lain, pendidikan menyangkut aspek-aspek rohani, intelektual dan jasmani. Maka hal ini, proses pendidikan sangat didukung banyak aspek, terutama guru atau pendidik, orang tua, dan juga lingkungan.

Lingkup materi pendidikan Islam secara lengkap dikemukakan oleh Heri Jauhari Muchtar dalam bukunya “Fikih Pendidikan”, sebagaimana dikutip dalam Sismanto (2008), yang menyatakan bahwa pendidikan Islam itu mencakup aspek-aspek sebagai berikut:

1. Pendidikan keimanan (Tarbiyatul Imaniyah)

2. Pendidikan moral/akhlak ((Tarbiyatul Khuluqiyah)

3. Pendidikan jasmani (Tarbiyatul Jasmaniyah)

4. Pendidikan rasio (Tarbiyatul Aqliyah)

5. Pendidikan kejiwaan/hati nurani (Tarbiyatul nafsiyah)

6. Pendidikan sosial/kemasyarakatan (Tarbiyatul Ijtimaiyah)

7. Pendidikan seksual (Tarbiyatul Syahwaniyah)

PENGARUH IMAN KEPADA ALLAH DAN HARI AKHIR BAGI PENDIDIKAN

Ada yang beranggapan bahwa cara yang ditempuh agama berupa menanamkan perasaan takut kepada Allah dan merasa khawatir terhadap perhitungan di hari akhir berpengaruh negatif bagi pendidikan, tak sesuai dengan kepribadian yang merdeka. Perlu kita tegaskan kepada mereka yang berpendapat demikian bahwa sama sekali membebaskan pendidikan dari unsur takut adalah suatu hal yang tidak mungkin, dan pendapat tersebut adalah salah. Bertentangan dengan sifat manusia, yang tercipta dengan dilengkapi harapan dan perasaan takut. Apabila perasaan takut itu merupakan sesuatu yang nyata serta tidak dapat dihindarkan, maka yang ideal adalah jika dibatasi hanya terhadap Pencipta segala makhluk, Pemegang kuasa tertinggi, sedang untuk selainnya pintu ketakutan itu ditutup rapat. Sebagaimana firman Allah SWT:

Yaitu orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepadaNya dan mereka tidak merasa takut kepada seorangpun selain Allah.”

(QS. Al-Ahzab: 39).

Dalam buku Kembali kepada Iman6, yang ditulis oleh seorang dokter jiwa di Amerika Serikat, dijelaskan bagaimana pentingnya pendidikan anak dengan nuansa religius. Dia pun membeberkan pula kesalahan pendapat orang-orang yang hendak menjauhkan jiwa agama dalam pendidikan anak-anak. Dia mengakui bahwa pendidikan anak-anak termasuk kewajiban yang amat kompleks dan rumit, terkait dengan banyak faktor. Selain itu, orangtua memerlukan bantuan luar untuk menanamkan nilai-nilai terpuji ke dalam jiwa anak-anaknya. Dia mengkritik orangtua yang merasa dirinya terpelajar, kemudian merasa tidak memerlukan kepercayaan keagamaan, dan mencari sumber baru yang dianggapnya dapat menolong.

Dia mengetengahkan pula pembahasan mengenai pentingnya kembali kepada agama dan mengikuti cara-cara yang digariskan oleh agama dalam mendidik anak-anak dan memperbaiki budi pekertinya. Dia berpendapat bahwa tidak ada jalan yang lebih baik untuk mendidik anak-anak, melainkan dengan mengucapkan: ”Ini baik, karena Allah memerintahkannya. Allah menyukai dan senang kepada yang baik dan akan memberikan balasan surga kepada orang yang mengerjakannya. Ini buruk, karena Allah melarangnya. Allah benci dan murka melihatnya, dan nanti akan menyiksa dengan api neraka kepada orang yang melakukannya.”

Cara yang demikian lebih baik daripada mengatakan: ”Ini baik atau ini buruk, karena begitu pandangan ibu bapak, dan pandangan masyarakat …..” dan seterusnya. Yang di sebut terakhir memiliki kesan sementara, dan kelak anak akan berpendapat bahwa pandangan masyarakat telah berobah seiring dengan perkembangan zaman.

Anak, yang semenjak kecil telah dibekali kepercayaan bahwa Allah itu ada dan memiliki alat ukur untuk menentukan buruk dan baik, tentu hal ini merupakan modal berharga dalam rangka membentuk pribadinya menjadi individu yang saleh. Di samping dia hendak melakukan pekerjaan yang disukainya atau yang tidak disukainya, dia telah memiliki alat penilai antara yang benar dan yang salah. Jika terlanjur melakukan kesalahan maka dengan cepat kepercayaannya memperingatkan sanubarinya agar berhenti dari perbuatan yang salah itu dan memberikan larangan agar tak mengulanginya lagi dikemudian hari.

Manusia dalam hidup ini mempunyai cita-cita yang luas, tujuan yang dekat dan jauh. Tetapi jalan menuju kesitu sangat panjang dan banyak likunya. Dalam pada itu, rintangan bukan sedikit, sebagiannya dari alam dan sunnah Tuhan di dunia ini, dan sebagian datang dari bangsa manusia sendiri. Sebab itu, diperlukan perjuangan yang berat dan pekerjaan yang terus menerus, guna mengatasi segala kesulitan dan menghilangkan rintangan, supaya tujuan dan cita-cita dapat tercapai. Maka bagi manusia yang mempunyai tujuan dan cita-cita, perlu ada kekuatan tempat bersandar dan yang dapat menolongnya dalam memudahkan segala kesulitan, mengatasi berbagai rintangan dan menunjukkan jalan yang patut ditempuh. Kekuatan yang diharapkan ini hanyalah bertemu di bawah naungan aqidah dan dilapangkan iman kepada Allah. Iman itulah yang dapat menolong, memberikan kekuatan jiwa dan jiwa yang kuat.

Salah satu aspek yang sering kita lupakan dalam mendidik anak-anak adalah tarbiyah ruhiyah7. Jangankan untuk anak, untuk diri sendiri pun kita sering lupa dengan tarbiyah bentuk ini. Padahal, seperti halnya akal dan pikiran perlu mendapat pendidikan, ruh kitapun wajib mendapatkan haknya.

Untuk mendidik akal dan meningkatkan kapasitas intelektual orang tua menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah favorit. Tetapi dalam masalah pendidikan keimanan seringkali enggan memberi porsi yang cukup. Bahkan tidak perduli walaupun sekolah tersebut tidak memberikan pendidikan Islam yang memadai.

Iman merupakan hal asasi dalam kehidupan seorang muslim, sedang tarbiyah merupakan kebutuhan pokok setiap insan.

Tarbiyah imaniyah adalah tarbiyah yang ditujukan untuk meningkatkan iman, ma’nawiyah (mentalitas), akhlaq (moralitas), dan syakhsyiyah (kepribadian) daripada mutarobiyyin (anak didik).

Iman kepada Allah dan hari akhir wajib mendapat pupuk yang menyegarkan, disiram dengan air agar terus menerus tumbuh di lahannya secara bertahap dan tawazun (seimbang) menuju kesempurnaan. Iman tumbuh subur karena didasari hubungan yang intens dengan Allah dalam berbagai bentuknya. Cobalah simak hasil tarbiyah pada seorang anak di masa salaf dahulu.

Abdullah bin Dinar berkisah tentang perjalanannya bersama Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengatakan, “Saya bersama Umar bin Khattab r.a. pergi ke Makkah dan beristirahat di suatu tempat. Lalu terlihatlah anak gembala dengan membawa banyak gembalaannya turun dari gunung dan berjumpa dengan kami. Umar bin Khattab berkata, “Hai penggembala, juallah seekor kambingmu itu kepadaku!” Anak kecil penggembala itu menjawab, “Aku bukan pemilik kambing ini, aku hanya seorang budaknya.” Umar menguji anak itu, “Katakanlah kepada tuanmu bahwa salah seekor kambingnya dimakan srigala.” Anak itu termenung lalu menatap wajah Umar, dan berkata, “Maka di manakah Allah?” Mendengar kata-kata yang terlontar dari anak kecil ini, menangislah Umar. Kemudian beliau mengajak budak itu kepada tuannya kemudian memerdekakannya. Beliau berkata pada anak itu, “Kalimat yang telah engkau ucapkan tadi telah membebebaskanmu di dunia ini, aku harap kalimat-kalimat tersebut juga akan membebaskanmu kelak di akhirat.”

Kejadian di atas menunjukkan salah satu pengaruh dari pengenalan terhadap Allah. Kejadian serupa itu sudah sangat jarang terjadi saat ini. Sekarang ini, di masyarakat kita kejujuran dan kebenaran seolah sudah tak ada harganya. Coba bandingkan dengan sikap Umar yang menghargai anak tersebut dengan membebaskannya dari perbudakan.

Mungkin timbul pertanyaan: bagaimanakah seorang anak kecil di masa itu bisa menjadi begitu yakin dengan pengawasan Allah (muroqobatullah) yang berlaku pada setiap manusia?

Keyakinan lahir dari suatu pendidikan dan latihan yang benar. Di mana kekhalifahan Umar, masyarakat Islam sudah terbentuk dan masyarakat ini menghasilkan bi’ah (lingkungan) yang baik bagi anak tersebut, kendati ia berada di gurun. Pengaruh sistem pendidikan Islam telah merembes ke berbagai tempat sehingga setiap orang benar-benar meyakini dan menghayati syariat Allah.

Tarbiyah imaniyah untuk anak-anak merupakan satu pendidikan yang meliputi hal-hal berikut:

  • Upaya melaksanakan dan menghayati nilai-nilai ibadah kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya sesuai dengan bimbingan Rasulullah SAW.
  • Pembiasaan dalam mengingat Allah (dzikrullah) dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an atau dengan menyebut-nyebut nama Allah dengan cara yang tepat di saat-saat tertentu.
  • Membiasakan merasakan adanya bimbingan Allah dalam melaksanakan kebaikan dan pengawasan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Yaitu dengan menghubungkan kejadian-kejadian sehari-hari yang dialaminya dengan kekuasaan Allah.
  • Membiasakan menggantungkan diri kepada Allah misalnya dengan berdo’a dalam berbagai situasi dan kondisi.
  • Meningkatkan akhlak (perilaku) yang baik dengan mencontohkan tindakan-tindakan baik dan memperbaiki perilakunya pada saat anak melakukan keburukan.
  • Memberikan motivasi dan rangsangan dengan memuji atau memberi hadiah ketika anak berbuat baik, memberi manfaat kepada orang lain, atau menyenangkan orang lain kendati orang tersebut tidak menyadarinya.
  • Membimbing hal-hal lain untuk yang berhubungan dengan pendekatan diri kepada Allah.

Orang yang beriman itu kuat8, karena dia mengambil kekuatan dari Allah yang di percayainya dan berserah diri kepadaNya. Di yakininya bahwa Allah bersama dia dimana saja dia berada. Dan Allahitu menolong orang-orang yang beriman dan melemahkan orang-orang yang menegakkan yang bathil, sebagaimana firman Allah:

Jika Allah menolong kamu, tidak ada yang dapat mengalahkan kamu. Dan jika Dia membiarkan kamu, siapakah yang dapat menolong selain padaNya? Dan kepada Allah, hendaklah orang-orang beriman itu tawakkal (menyerahkan dirinya)”

(QS. Ali Imran: 160)

Orang beriman mengambil kekuatan dari kebenaran yang dianutnya. Dia tidak bekerja karena dorongan syahwat dan nafsu, bukan karena kepentingan pribadi, bukan karena mempertahankan golongan dan bukan pula karena hendak menganiaya dan melanggar hak orang lain. Orang beriman itu bekerja hanya karena kebenaran yang karena kebenaran itu berdiri langit dan bumi.

Orang beriman itu karena keimanannya kepada Allah dan kepercayaan kepada kebenaran yang dianutnya, dia berdiri di atas bumi yang teguh, tidak goyah dan tidak bergoncang. Dia berpegang kepada tali yang teguh dan berlindung di tempat yang kuat, sesuai firman Allah:

Dan barangsiapa yang tidak percaya kepada kesesatan dan percaya kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali yang teguh, yang tidak akan putus.” (Al-Baqarah: 256)

Orang beriman tiada merasa dirinya makhluk yang rendah dan tiada arti, melainkan manusia menjadi khalifah di bumi, tidak akan kalah berhadapan dengan penegak yang bathil, karena yang jadi pelindung dan pemimpinnya ialah Allah, malaikat Jibril dan orang-orang yang beriman.

Orang beriman memperoleh kekuatan dan keyakinannya tentang kehidupan yang kekal. Dalam pandangannya, kehidupan itu bukanlah hanya sekedar kehidupan yang sekarang, dalam umur tertentu dan tempat tertentu, melainkan juga hidup kekal.

Sikap dan kepribadian seseorang yang telah memiliki pemahaman tentang ajaran agama akan berbeda jika dibandingkan dengan seseorang yang tidak, belum, atau kurang memiliki pemahaman tentang ajaran agama. Perbedaan tersebut akan terlihat dalam sikap dan perbuatannya sehari-hari. Seseorang yang telah memahami ajaran agamanya cenderung akan melakukan perbuatan-perbuatan yang dibolehkan dalam agamanya dan selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya selaku hamba Allah. Orang tersebut juga akan selalu berusaha agar ia tidak melakukan hal-hal yang dilarang bahkan yang diharamkan dalam ajaran agamanya.

KESIMPULAN

Anak adalah amanah Allah sekaligus anugerah-Nya yang sangat besar bagi suatu keluarga. Anak shalih adalah penyambung ikhtiar dan peringan beban orang tua. Ketika orang tua masih hidup, anak shalih akan memohonkan ampunan dan kasih sayang Allah bagi mereka berdua. Setelah mereka meninggal dan amalnya terputus, doa anaknya, insya Allah, terus mengalir. Anak shalih adalah buah hasil pendidikan orang tua yang tak kenal henti.

Anak yang beriman, sehat jasmani maupun ruhani serta terpelajar selalu menjadi harapan setiap keluarga muslim. Karena itu, setiap orang tua bertanggungjawab atas kesejahteraan dan pendidikan anak-anaknya, terlebih pendidikan agama. Mereka akan dimintai pertanggungjawabannya di yaumul hisab.

Anak memerlukan pendidikan, baik umum maupun agama. Namun sayang, masih banyak orang tua yang melupakan atau kurang memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya. Padahal agama yang menuntun kehidupan manusia agar selalu dalam kebenaran dan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.

Maka dari itu menanamkan keimanan kepada Allah dan iman kepada hari akhir semenjak anak-anak akan menjadikan mereka mempunyai bekal dalam menghadapi hidup.

Anak yang mendapatkan pendidikan tentang keimanan kepada Allah dan hari akhir akan selalu bersandar pada ketentuan Allah. Ia akan menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah Allah berikan dan akan selalu menjauhi apa yang di larang oleh Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Kitab Tauhid 2, Agus Hasan Bashori, Lc., Yogyakarta: PDPM FIAI UII, 2001

Iman dan Kehidupan, Fachruddin HS., Jakarta: 1983

Merasakan kehadiran Tuhan (Al-Iman wal Hayat), DR. Yusuf Qardhawi, Yogyakarta: 2001

M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 1997

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1992

http://aridemvintoni.wordpress.com/2008/07/22/pendidikan-islam-dalam-pembentukan-kepribadian-anak-di-lingkungan-keluarga/

http://daffodilmuslimah.multiply.com/journal/item/135/Tarbiyah_Imaniyah_Bagi_Anak

1 Kitab Tauhid 2, Agus Hasan Bashori, Lc., Yogyakarta: PDPM FIAI UII, 2001

2 Kitab Tauhid 2, Agus Hasan Bashori, Lc., Yogyakarta: PDPM FIAI UII, 2001

3 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1992), cet. ke-2, h. 25

4 M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1997), cet. ke-1, h. 5

5 http://aridemvintoni.wordpress.com/2008/07/22/pendidikan-islam-dalam-pembentukan-kepribadian-anak-di-lingkungan-keluarga/

6 Merasakan kehadiran Tuhan (Al-Iman wal Hayat), DR. Yusuf Qardhawi, Yogyakarta: 2001

7 http://daffodilmuslimah.multiply.com/journal/item/135/Tarbiyah_Imaniyah_Bagi_Anak

8 Iman dan Kehidupan, Fachruddin HS., Jakarta: 1983

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s